Wednesday, October 26, 2011

Lembah Keesaan


Hudhud melanjutkan, “Kau seterusnya harus melintasi Lembah Keesaan. Di Lembah ini segalanya pecah berkeping-keping dan kemudian menyatu. Segala yang menegakkan kepala di sini menegakkan kepala dari kerah yang satu itu juga. Meskipun kau seakan melihat wujud yang banyak, namun pada hakikatnya hanyalah satu. Semua merupakan esa yang sempurna dalam keesaannya. Dan sekali lagi, yang kaulihat sebagai keesaan tidaklah berbeda dengan yang tampak sebagai banyak. Dan karena Wujud yang kubicarakan itu mengatasi keesaan dan hitungan, jangan lagi memikirkan keabadian sebagai yang dulu dan yang kemudian, dan karena kedua keabadian ini telah lenyap, jangan lagi membicarakannya. Bila segala yang tampak menjadi tiada, apakah lagi yang tinggal untuk direnungkan?”

Jawaban Si Gila Tuhan

Seseorang bertanya pada seorang arif, “Apakah dunia ini? Dengan apa dapat dibandingkan?” Jawabnya, “Dunia ini, paduan dari kengerian dan kejahatan ini, ialah bagai pohon-palma dari lilin dihiasi dengan seratus warna. Bila kauremas pohon itu, ia pun menjadi segumpal lilin; karena itu warna-warna dan bentuk-bentuk yang kaukagumi tidaklah berharga se-obol pun. Jika ada keesaan tak mungkin ada keduaan; baik ‘Aku’ maupun ‘Engkau’ tidaklah penting.
Tetapi apakah gunanya kata-kataku, meskipun itu timbul dari lubuk jiwaku, kalau kau tak merenungkannya. Bila kau telah tercebur ke dalam lautan kehidupan lahiriah, seperti ayam hutan dengan sayap dan lar yang tak dapat menopangnya, maka jangan sekali-kali berhenti memikirkan bagaimana mencapai pantai.”

Syaikh Bu Ali Dakkah

Seorang perempuan tua menyerahkan sekeping emas pada Bu Ali sambil berkata, “Terimalah ini dariku.” Jawab Bu Ali, “Aku hanya dapat menerima apa-apa dari Tuhan.” Perempuan tua itu menjawab dengan tepat, “Dari mana anda belajar melihat ganda? Anda bukan orang yang dapat menyimpul-uraikan. Sekiranya anda tak bermata juling, akan dapatkah anda melihat beberapa benda serempak?”
Tiadalah Ka’bah maupun Pagoda. Pelajarilah dari mulutku ajaran yang benar -adanya Wujud yang abadi. Kita jangan melihat siapapun yang lain kecuali Dia. Kita ada dalam Dia, karena Dia, dan bersama Dia. Kita mungkin pula berada di luar keadaan-keadaan ini. Siapa pun yang tak berendam dalam Lautan Keesaan tidaklah layak sebagai umat manusia.
Akan datang hari ketika Matahari akan menyingkapkan cadar yang menyelubunginya. Selama kau terpisah, baik dan buruk akan timbul dalam dirimu, tetapi bila kau meniadakan dirimu sendiri dalam Matahari Hakikat Keilahian, baik dan buruk itu akan teratasi oleh cinta. Selagi kau berlambat-lambat di jalan, kau akan tertahan oleh kesalahan-kesalahan dan kelemahan. Belumkah kau menyadari bahwa dalam dirimu ada kesombongan, kecongkakan, kebanggaan-diri, cinta-diri dan sifat-sifat lain yang kotor! Meskipun ular dan kalajengking mungkin mati tampaknya dalam dirimu, namun mereka hanya tidur; dan bila mereka tersentuh, mereka pun akan bangun dengan kekuatan seratus naga. Dalam masing-masing diri kita ada neraka ular. Bila kau dapat menyelamatkan dirimu dari makhluk-makhluk kotor ini, kau akan tinggal tenang; bila tidak, mereka akan menyakitkanmu dengan bisa meski kau di debu kubur sekalipun hingga hari perhitungan kelak.
Dan kini, o Attar, tinggalkan pembicaraanmu yang penuh ibarat dan kembalilah pada pemerian tentang lembah Keesaan yang penuh rahasia itu.
Hudhud pun melanjutkan, “Bila musafir ruhani memasuki Lembah ini, ia akan lenyap dan hilang dari pandangan, karena Wujud Tak Berbanding itu menampilkan dirinya; musafir itu akan diam karena Wujud ini akan bersabda.
Bagian akan menjadi keseluruhan, atau lebih tepat, tak akan ada lagi bagian maupun keseluruhan. Dalam kelompok Rahasia ini akan kaulihat ribuan orang dengan pengetahuan kecerdasan pikiran, bibir mereka ternganga diam. Apakah artinya pengetahuan kecerdasan pikiran di sini. Ia terhenti di ambang pintu seperti bocah yang buta. Ia yang menemukan sesuatu dari Rahasia ini memalingkan mukanya dari kerajaan kedua dunia itu. Wujud yang kubicarakan itu ada tidak secara terpisah; segalanya ialah Wujud ini; ada dan tiada ialah Wujud ini.”

Doa Lukman Sarkhasi

Lukman Sarkhasi berkata, “O Tuhan, hamba sudah tua, dan pikiran hamba rusuh; hamba telah tersesat dari Jalan itu. Bagi seorang abdi yang tua orang-orang biasa memberikan surat kebebasan. Dalam pengabdian hamba padamu, o Raja hamba, rambut hamba yang hitam sudah menjadi putih salju. Hamba seorang abdi, yang merasa sedih berilah kiranya hamba kini surat kebebasan.”
Sebuah suara dari dunia batin menjawab, “Kau, yang terutama telah diperkenankan ke tempat suci ini, ketahuilah bahwa ia yang menghendaki kebebasan dari penghambaan, harus membuang pikirannya dan tidak membiarkan dirinya diliputi kecemasan dan ketakutan.”
Lukman berkata, “O Tuhan hamba, hanya Engkau yang hamba dambakan, dan hamba tahu bahwa hamba tak boleh membiarkan diri dipengaruhi angan-angan atau kecemasan dan ketakutan.” Setelah Lukman meninggalkan semua itu, ia pun berkata, “Kini hamba tak tahu siapa hamba. Hamba bukan abdi, tetapi siapakah hamba? Kedudukan hamba sebagai abdi sudah berakhir, tetapi kebebasan hamba tidak menggantikannya dalam hati hamba tiada suka maupun duka. Hamba tanpa sifat, namun hamba tak kehilangan sifat, Hamba seorang perenung, namun hamba tak punya renungan. Hamba tak tahu apakah Engkau hamba atau hamba Engkau; hamba telah menjadi tiada dalam Engkau dan keduaan pun lenyaplah.”

Seorang Pencinta Menyelamatkan Kekasihnya dari Sungai

Seorang wanita muda jatuh ke dalam sungai, dan pencintanya pun terjun hendak menyelamatkannya. Ketika si pencinta itu dapat meraihnya, wanita itu berkata, “Oh, mengapa kau pertaruhkan hidupmu karena aku?” Jawab si pencinta, “Bagiku tiada orang lain kecuali kau. Bila kita bersama, maka sungguh aku ini kau, dan kau aku. Kita berdua ini satu. Kedua diri-kita satu, itu saja.”
Bila keduaan lenyap, keesaan ditemukan.

Cerita Lain tentang Mahmud dan Ayaz

Ada diceritakan bahwa suatu kali Faruk: dan Masud hadir pada pameran barisan tentara Mahmud yang terdiri dari gajah, kuda dan pasukan perajurit yang tak terhitung banyaknya, sehingga bumi pun seakan tertutup dengan semut dan belalang. Ayaz dan Hassan menyertai Mahmud yang duduk di suatu tempat yang tinggi.
Ketika bala tentara yang hebat itu berjalan dalam barisan melalui mereka, raja besar itu dengan begitu saja berkata pada Ayaz, “Anakku, segala gajah, kuda dan perajuritku ini kini menjadi milikmu, karena cintaku padamu sedemikian rupa sehingga kupandang kau sebagai raja.” Meskipun kata-kata itu diucapkan oleh Mahmud yang termasyhur itu, namun Ayaz tampak tak peduli dan tak bergerak; tiada ia berterimakasih pada raja maupun memberikan ulasan. Dengan heran, Hassan pun berkata padanya, “Ayaz, seorang raja telah memberikan kehormatan padamu, seorang hamba biasa, dan kau tak sedikit juga memperlihatkan tanda berterimakasih; kau pun tak pula membungkuk maupun bersujud sebagai tanda hormat.” Ayaz sedikit berpikir dan kemudian katanya, “Mesti kuberikan dua jawaban atas celaanmu: yang pertama ialah bahwa bila aku, yang tak punya ketetapan dan kedudukan ini, hendak menunjukkan pengabdianku pada raja, maka aku hanya dapat menjatahkan diri pada debu di hadapannya dalam semacam kehinaan diri atau jika tidak demikian, menyanyikan pujian-pujian untuknya dengan suara melolong-lolong. Antara berbuat berlebih-lebihan dan berbuat kelewat sedikit, lebih baik tak berbuat apa-apa. Hamba ini hamba raja, dan hormatku pada raja dianggap sebagai sudah semestinya. Adapun tentang kehormatan yang telah dianugerahkan raja yang berbahagia ini kepadaku, seandainya kedua dunia mesti menyatakan pujian-pujian untuknya, kesaksian keduanya itu pun tak akan sebanding dengan kebaikan raja. Kalau aku tak menunjukkan kelakuan yang berlebihan, dan tak menyatakan kesetiaanku, adalah karena aku merasa diriku tak layak berbuat demikian.”
Hassan berkata, “O Ayaz, aku tahu sekarang bahwa kau merasa berterima kasih dan aku menaruh percaya padamu karena kau layak mendapat seratus karunia.” Kemudian tambahnya, “Kini katakan padaku jawaban yang kedua.” Tetapi Ayaz berkata, “Tak dapat aku bicara dengan bebas di hadapanmu; itu hanya dapat kulakukan kalau aku sendirian saja dengan raja. Kau bukan mahram rahasia itu.” Maka raja pun minta agar Hassan meninggalkan mereka, dan ketika tak ada lagi “kita” atau “aku”, maka Ayaz pun berkata, “Ketika raja berkenan melemparkan pandangan pada diri hamba, ia memusnahkan adaku dengan kegemilangan cahayanya. Karena dalam cahaya mataharinya yang gemilang itu aku tak ada lagi, bagaimana aku akan bersujud diri? Ayaz ialah bayang-bayangnya, hilang dalam matahari wajahnya.”

Lembah Kebebasan

Lembah Keinsafan


Hudhud melanjutkan, “Setelah lembah yang kubicarakan itu, menyusul lembah yang lain – Lembah Keinsafan, yang tak bermula dan tak berakhir. Tiada jalan yang sama dengan jalan ini, dan jarak yang harus ditempuh untuk melintasinya tak dapat diperkirakan. Keinsafan, bagi setiap penempuh perjalanan itu, kekal sifatnya; tetapi pengetahuan hanya sementara. Jiwa, seperti raga, ada dalam perkembangan maju dan mundur; dan Jalan Ruhani itu hanya menampakkan dirinya dalam tingkat di mana si penempuh perjalanan itu telah mengatasi kesalahan-kesalahan dan kelemahankelemahannya, tidur dan kemalasannya dan setiap penempuh perjalanan itu akan bertambah dekat dengan tujuannya, masing-masing sesuai dengan usahanya. Meskipun seekor lalat terbang dengan segala kemampuannya dapatkah ia menyamai kecepatan angin? Ada berbagai cara melintasi Lembah ini, dan semua burung tidaklah sama terbangnya. Keinsafan dapat dicapai dengan beragam cara-sebagian ada yang menemukannya di Mihrab,1 yang lain pada arca pujaan.
Bila matahari keinsafan menerangi jalan ini, masing-masing akan menerima cahaya sesuai dengan amal usahanya dan mendapatkan tingkat yang telah ditetapkan baginya dalam menginsafi kebenaran. Bila rahasia hakikat segala makhluk menyingkapkan dirinya dengan jelas padanya, maka perapian dunia pun menjadi taman mawar. Ia yang berusaha akan dapat melihat buah badam yang terlindung dalam kulitnya yang keras itu. Ia tak akan lagi sibuk memikirkan dirinya sendiri, tetapi akan menengadah memandang wajah sahabatnya. Pada setiap zarrah ia akan dapat melihat keseluruhan; ia akan merenungkan ribuan rahasia yang cemerlang.
Tetapi berapa banyak yang telah tersesat dalam mencari penunjuk Jalan yang telah menemukan rahasia itu! Perlu kiranya mempunyai keinginan yang dalam dan tetap untuk menjadi sebagaimana keadaan kita semestinya buat melintasi lembah yang sulit ini. Sekali kau telah mengenyam rahasia-rahasia itu, maka kau pun akan sungguh-sungguh ingin memahami semua itu. Tetapi apa pun yang mungkin kau capai, jangan sekali-kali lupa akan sabda Quran, ‘Adakah lagi yang lain?’
Akan halnya kau yang tidur (dan aku tak dapat memuji kau karena yang demikian), mengapa tak bersedih? Kau yang tak melihat keindahan sahabatmu, bangunlah dan berusahalah mencari! Berapa lama kau akan tinggal tetap sebagaimana keadaanmu sekarang, seperti keledai tanpa tali leher!”

Airmata Batu

Adalah seorang laki-laki di Cina yang mengumpulkan batu-batu tiada hentinya. Ia mengucurkan airmata berlimpahan, dan bila airmata itu jatuh ke tanah, berubahlah jadi batu, yang tiap kali dikumpulkannya. Kalau awan mesti mencucurkan airmata seperti itu, maka akan menimbulkan kesedihan dan keluhan.
Pengetahuan sejati menjadi milik pencari yang tulus. Jika diperlukan mencari pengetahuan ke negeri Cina, maka pergilah. Tetapi pengetahuan dirusakkan oleh pikiran dangkal, ia mengeras, bagai batu. Berapa lama lagi pengetahuan sejati akan terus salah dimengerti? Dunia ini, rumah kesedihan ini, ada dalam kegelapan; tetapi pengetahuan sejati ialah perrnata, ia akan menyala bagai lampu dan menunjukkan jalan padamu di tempat yang kelam ini. Bila kau remehkan permata ini, kau akan sungguh-sungguh patut disesalkan. Bila kau tercecer di belakang, kau akan menangis pedih. Tetapi bila kau hanya tidur sedikit di malam hari, dan puasa di siang hari, kau mungkin mendapatkan apa yang kaucari. Maka carilah, dan tenggelamkan dirimu dalam usaha mencari itu.

Pencinta yang Tidur

Seorang pencinta, merasa cemas dan risau, dan letih karena mengeluh, tertidur di atas gundukan sebuah makam. Kekasihnya datang mendekatinya dan melihat dia tertidur, ditulisnya sepucuk surat kecil lalu disematkannya di jubah pencintanya itu. Ketika si pencinta bangun dan membaca apa yang telah ditulis kekasihnya itu, ia pun mengeluh sedih, karena surat itu berbunyi, “O laki-laki goblok! Bangkitlah, dan bila kau pedagang, berdaganglah dan dapatkan uang; jika kau seorang zahid, bangunlah malam hari dan berdoalah pada Tuhan dan jadilah hamba-Nya. Tetapi jika kau seorang pencinta, merasalah malu pada dirimu sendiri. Apa gunanya tidur bagi mata pencinta? Di siang hari pencinta berlomba dengan angin; di malam hari hatinya yang menyala membuat wajahnya bersinar seri dengan cemerlang cahaya bulan. Jika kau bukan laki-laki semacam itu, jangan lagi berlagak mencintai aku. Jika seseorang bisa tidur di tempat lain dan bukan di kuburnya, boleh kukatakan dia itu seorang pencinta-tetapi, pencinta dirinya sendiri.”

Perajurit Pengawal yang Sedang Dalam Bercinta

Seorang perajurit sedang dalam bercinta. Selagi tidak mengawal pun ia tak bisa tidur. Akhirnya seorang kawan memintanya agar tidur beberapa jam. Kata perajurit itu, “Aku perajurit pengawal, dan aku sedang dalam bercinta. Bagaimana aku bisa istirahat? Seorang perajurit yang sedang bertugas tak boleh tidur, maka yang demikian itu akan merupakan keuntungan bagi dia dalam bercinta. Setiap malam cinta menguji diriku, dan karena itu aku dapat tetap berjaga dan mengawal benteng. Cinta ini sahabat bagi perajurit pengawal, karena keadaan jaga menjadi bagian dari dirinya; ia yang mencapai keadaan demikian akan selalu awas.”
Jangan tidur, o insan, jika kau berusaha mendapatkan pengetahuan tentang dirimu sendiri. Kawal baik-baik benteng hatimu, karena banyak pencuri di mana-mana. Jangan biarkan para perampok mencuri permata yang kau bawa. Pengetahuan sejati akan datang pada dia yang dapat tetap berjaga. Ia yang dengan sabar berkawal akan sadar-tahu kapan Tuhan datang mendekat. Para pencinta sejati yang ingin menyerahkan diri dalam bius kemabukan cinta akan pergi menyendiri. Ia yang memiliki cinta ruhani menggenggam di tangannya kunci kedua dunia. Jika ia perempuan, ia akan menjadi laki-laki; dan jika ia laki-laki, ia akan menjadi lautan yang dalam.

Mahmud dan Si Gila Tuhan

Suatu hari, di gurun, Mahmud melihat seorang fakir yang menundukkan kepala dengan sedih berpunggung bungkuk karena duka. Ketika Sultan mendekatinya, orang itu berkata, “Enyahlah! Atau akan kupukul kau seratus kali. Pergi, kataku, kau bukan raja, melainkan orang yang berpikiran hina, seorang kafir di mata Tuhan.” Mahmud menjawab tajam, “Bicaralah padaku sebagaimana layaknya pada seorang sultan, jangan serupa itu.” Jawab fakir itu, “Jika kau tahu, o si bodoh, bagaimana kau terjungkir-balik, kerajaan dan kekayaan pun tak ada artinya; kau akan meratap tiada hentinya dan membakar kepalamu.”

Lembah Cinta


Hudhud melanjutkan, “Lembah berikutnya ialah Lembah Cinta. Untuk memasukinya kita harus menjadi api yang menyala –begitulah dapat kukatakan. Kita sendiri harus menjadi api. Wajah pencinta harus menyala, mengilau dan berkobar-kobar bagai api. Cinta sejati tak mengenal pikiran-pikiran yang menyusul kemudian; dengan cinta, baik dan buruk pun tak ada lagi.
Tetapi akan halnya kau, yang tak acuh dan tak peduli, pembicaraanku ini tak akan menyentuhmu, bahkan tak akan terkerat oleh gigimu. Siapa yang setia mempertaruhkan uang tunai, bahkan mempertaruhkan kepala, untuk menjadi satu dengan sahabatnya. Yang lain-lain puas dengan menjanjikan apa yang akan mereka lakukan untukmu besok. Bila ia yang memulai perjalanan ini tak mau melibatkan diri seutuhnya dan sepenuhnya, ia tak akan bebas dari duka dan kemurungan yang memberatinya. Sebelum elang mencapai tujuannya, ia gelisah dan sedih. Jika ikan didamparkan ke pantai oleh ombak, ia menggelepar-gelepar hendak kembali ke dalam air.
Di lembah ini, cinta dilambangkan dengan api, dan pikiran dengan asap. Bila cinta datang, pikiran lenyap. Pikiran tak bisa tinggal bersama kedunguan cinta; cinta tak berurusan dengan akal pikiran insani. Bila kau memiliki penglihatan batin, zarrah-zarrah dari dunia yang kelihatan ini akan tersingkap bagimu. Tetapi bila kau memandang segalanya dengan mata pikiran biasa, kau tak akan pernah mengerti betapa perlunya mencinta. Hanya dia yang telah teruji dan bebas dapat merasakan ini. Ia yang menempuh perjalanan ini hendaknya punya seribu hati sehingga tiap sebentar ia dapat mengorbankan satu.”

Seorang Koja yang Mabuk Cinta

Seorang Koja menjual segala yang ada padanya – perabotan, para hamba dan segalanya, untuk membeli bir dari seorang penjual bir yang masih muda. Ia sama sekali jadi gila karena cinta akan penjual bir ini. Ia selalu lapar karena bila ia diberi roti, dijualnya roti itu untuk membeli bir. Akhirnya seseorang bertanya padanya, “Bagaimana sebenarnya cinta yang membawa kau dalam keadaan yang patut disayangkan ini? Ceritakan padaku rahasianya!” “Cinta memang sedemikian itu,” jawab orang Koja itu, “sehingga kita mau menjual barang dagangan dari seratus dunia untuk membeli bir. Selama kita tak memahami ini, kita tak akan pernah menghayati perasaan yang sejati tentang cinta.”

Cerita tentang Majnun

Orang tua Laila melarang Majnun mendekati kemah mereka. Tetapi Majnun, yang dimabuk cinta, meminjam kulit domba dari seorang gembala di gurun, di mana suku Laila memancangkan kemahnya. Ia membungkukkan diri dan mengenakan kulit domba, lalu katanya pada gembala itu, “Dengan nama Tuhan, biarlah aku ikut merangkak di tengah domba-dombamu, kemudian bawalah kawanan domba itu melintasi kemah Laila, agar mudah-mudahan aku dapat mencium wewangiannya yang nikmat, dan dengan menyembunyikan diri dalam selubung kulit ini mudah-mudahan aku dapat mengusahakan sesuatu.” Gembala itu berbuat seperti yang dikehendaki Majnun, dan ketika mereka melintasi kemah Laila, Majnun melihat gadis itu, lalu pingsan. Si gembala kemudian menggotongnya dari kemah itu ke gurun, lalu menyiram mukanya dengan air untuk menyejukkan cintanya yang menyala.
Di hari lain, Majnun ada bersama beberapa kawannya di gurun, dan salah seorang bertanya padanya, “Bagaimana dapat kau, seorang yang terhormat, pergi ke mana-mana dengan bertelanjang saja? Biarlah kucari pakaian untukmu jika kau ingin.” Majnun berkata, “Tak ada pakaian yang kupakai akan layak bagi kekasihku, maka bagiku tiada yang lebih baik dari tubuhku yang telanjang atau selembar kulit domba. Laila, bagiku, seperti Ispand penangkal pengaruh jahat. Majnun tentulah akan senang memakai pakaian-pakaian sutera dan kain kencana, tetapi ia lebih suka dengan kulit domba ini, karena dengan memakai ini ia akan dapat melihat sepintas wajah Laila.”
Cinta mestilah merobek-buangkan kehati-hatian. Cinta mengubah sikapmu. Mencinta adalah mengorbankan kehidupanmu yang biasa dan meninggalkan kesenangan-kesenanganmu yang menyolok mata.

Seorang Pengemis Mencintai Ayaz

Seorang darwis yang miskin suatu kali jatuh cinta pada Ayaz, dan kabar itu pun segera tersiar. Bila Ayaz berkuda di jalan yang bertaburkan wangian kesturi, darwis itu biasa menunggu dan kemudian lari mendapatkannya, lalu menatap padanya bagai pemain polo memancangkan matanya ke arah bola. Akhirnya orang-orang pun melaporkan pada Mahmud tentang pengemis yang mencintai Ayaz ini. Suatu hari, ketika Ayaz berkuda bersama sultan, maka sultan berhenti dan memandang darwis itu dan terlihat olehnya bahwa jiwa Ayaz bagai sebutir gandum dan wajah darwis itu bagai bulatan tepung adonan yang melingkungi butir gandum itu.
Tampak padanya bahwa punggung pengemis itu bungkuk bagai tongkat pemukul bola polo, dan kepalanya berputar-putar sepenuhnya bagai bola dalam permainan polo. Mahmud berkata, “Pengemis malang, inginkah kau minum dari satu gelas bersama Sultan?” “Meskipun Tuan sebut hamba ini pengemis,” jawab darwis itu, “namun hamba tak kalah dengan Tuanku dalam permainan cinta. Cinta dan kemiskinan sejalan. Tuan orang yang berdaulat, dan hati Tuan bercahaya; tetapi untuk cinta, hati yang menyala seperti hamba ini perlu. Cinta Tuan kelewat biasa. Hamba menderita kesedihan karena perpisahan. Tuan bersama sang kekasih; tetapi dalam bercinta kita harus mengenal bagaimana menderita kesedihan karena perpisahan.”
Sultan pun berkata, “O kau yang telah menarik diri dari kehidupan yang biasa, cinta bagimu bagai permainan polo?” “Begitulah,” jawab pengemis itu, “karena bola selalu bergerak, seperti hamba, dan hamba pun seperti bola itu. Bola dan hamba punya kepala yang berpusing, meskipun kami tak bertangan maupun berkaki. Kami dapat bersama-sama membicarakan penderitaan yang ditimbulkan oleh tongkat pemukul pada kami; tetapi bola itu lebih beruntung daripada hamba, karena kuda menyentuhnya dengan kakinya setiap kali. Bola itu menerima pukulan tongkat pemukul pada badannya, tetapi hamba merasakan pukulan-pukulan itu dalam hati hamba.”
“Darwis yang miskin,” kata Sultan, “kau membanggakan kemiskinanmu, tetapi mana bukti yang dapat kauperlihatkan?”
“Hamba korbankan segalanya demi cinta,” jawab darwis itu, “itulah tanda kemiskinan ruhani hamba. Dan bila Tuan, o Mahmud, pernah menghayati cinta yang sebenarnya, korbankanlah hidup Tuan untuk itu; bila tidak, Tuan tak berhak bicara tentang cinta.”
Setelah berkata demikian, ia pun mati, dan dunia menjadi gelap bagi Mahmud.

Seorang Arab di Persia

Suatu kali seorang Arab pergi ke Persia dan heran melihat adat kebiasaan negeri itu. Pada suatu hari kebetulan ia melalui permukiman sekelompok kaum Qalandar1 dan melihat beberapa laki-laki yang tak bicara sepatah kata pun. Mereka tak punya istri dan tak punya sekeping obol pun, tetapi mereka berhati suci dan bersih. Masing-masing memegang sebuah botol berisi anggur pekat yang dituangkannya dengan hati-hati sebelum duduk. Orang Arab itu merasa senang dengan mereka; ia pun berhenti dan pada saat itu hati dan pikirannya tertuju ke jalan itu.
Melihat ini kaum Qalandar itu berkata, “Masuklah, o orang yang tak berarti!” Maka begitulah, mau tak mau ia pun masuk. Ia diberi sepiala anggur dan segera ia pun tak sadarkan diri. Ia jadi mabuk dan kekuatannya hilang. Emas dan perak serta barang-barangnya yang berharga diambil oleh salah seorang dari kaum Qalandar, dan kepadanya diberikan anggur lebih banyak lagi, dan akhirnya ia pun dilemparkan ke luar rumah. Kemudian orang Arab itu pun pulang ke negerinya sendiri, bermata sebelah dan miskin, keadaannya berubah dan bibirnya kering. Setiba di tempat kelahirannya, kawan-kawannya bertanya padanya, “Ada apa? Kau pengapakan uang dan barang-barangmu yang berharga itu? Apakah dicuri orang ketika kau tidur? Adakah kau telah berbuat buruk di Persia? Ceritakan pada kami! Mungkin kami dapat menolongmu!”
“Aku ngeloyor ke sana-sini di jalan,” katanya, “dan tiba-tiba saja aku bertemu dengan kaum Qalandar. Tak ada yang kuketahui lagi kecuali bahwa aku telah kehilangan semua milikku dan kini aku tak punya apa-apa lagi.” Mereka minta padanya agar memberikan gambaran tentang kaum Qalandar itu. Jawabnya hanya, “Orang-orang itu cuma mengatakan padaku, ‘Masuklah’.”
Orang Arab itu seterusnya tetap dalam keadaan heran dan tercengang, seperti anak kecil, dan melongo karena kata “Masuklah”.
Maka kau pun hendaknya melangkah maju. Bila kau tak mau, maka ikuti angan-anganmu. Tetapi bila kau lebih menyukai kerahasiaan cinta dari jiwamu, maka kau akan mengorbankan segalanya. Kau akan kehilangan apa yang kau pandang berharga, tetapi kau akan segera mendengar kata-kata khidmat, “Masuklah”.

Si Pencinta yang Kehilangan Kekasihnya

Seorang laki-laki yang bercita-cita luhur jatuh cinta dengan seorang wanita muda jelita. Tetapi sementara itu wanita pujaan hatinya menjadi kurus dan sepucat ranting yang berwama kuning kunyit. Hari yang cerah lenyap dari hatinya; dan maut, yang menunggu dari jauh, datang mendekat. Ketika laki-laki yang mencintainya mengetahui ini, ia pun mengambil parang dan berkata, “Aku akan pergi membunuh kekasihku di tempat ia terbaring agar si jelita yang bagai lukisan yang mengagumkan ini tidak mati karena kodrat.” Orang-orang pun mengatakan padanya, “Apa kau gila! Kenapa pula kau mau membunuh wanita itu di saat ia sudah mendekati ajalnya?” Si pencinta itu berkata, “Jika dia mati karena tanganku, maka orang-orang pun akan membunuhku, sebab aku dilarang membunuh diriku sendiri. Kemudian di hari kiamat kelak, kami akan bersama lagi sebagaimana kami sekarang ini. Jika aku dibunuh, karena gairah hasratku padanya, maka kami akan menjadi satu, seperti nyala terang pada sebatang lilin yang dinyalakan.”
Para pencinta yang telah mempertaruhkan hidupnya demi cinta mereka telah memasuki jalan itu. Dalam kehidupan Ruh, mereka menyatu dengan tambatan kasih mereka.

Ibrahim dan Malakul Maut

Ketika tiba saatnya sahabat Tuhan itu hendak wafat, ia enggan menyerahkan nyawanya pada Izrail. “Tunggu,” katanya pada Izrail. “Adakah Malikulalam telah memintanya?” Tetapi Allah Ta’ala bersabda pada Ibrahim, “Jika kau benar-benar sahabatku, tidakkah kau ingin datang padaku? Ia yang menyesal memberikan hidupnya pada sahabatnya menghendaki hidupnya dirobek dengan pedang.” Kemudian, salah seorang yang hadir di sana berkata, “O Ibrahim, Cahaya Dunia, mengapa Tuan tak menyerahkan hidup Tuan dengan suka hati pada Izrail? Para pencinta di Jalan Ruhani mempertaruhkan hidupnya demi cinta mereka; Tuan menganggap hidup Tuan berharga.” Kata Ibrahim, “Bagaimana dapat aku melepaskan hidupku bila Izrail telah menghalangnya? Aku tak mengindahkan permintaannya, karena aku hanya ingat pada Tuhan. Ketika Nimrod melepaskan aku ke dalam api dan Jibril datang padaku, tak kuindahkan dia karena aku hanya ingat pada Tuhan. Karena aku memalingkan kepalaku dari Jibril dapatkah aku diharapkan akan menyerahkan nyawaku pada Izrail? Kalau kudengar Tuhan bersabda, ‘Berikan hidupmu padaku!’ maka hidupku pun tak lebih berharga dari sebutir gandum. Bagaimana mungkin aku memberikan hidupku pada seseorang kalau ia tidak memintanya. Itu saja yang mesti kukatakan.”

Pertanyaan burung ke-20


Burung ini berkata pada Hudhud, “O kau yang tahu akan jalan yang telah kau katakan pada kami dan yang ingin agar kami mengikutimu di sana, bagiku jalan itu gelap, dan dalam kegelapan, jalan itu tampak amat sukar, dan bermil-mil jauhnya.”
Hudhud menjawab, “Kita harus melintasi tujuh lembah dan hanya setelah kita melintasi lembah-lembah itu akan menemukan Simurgh. Siapa yang telah menempuh jalan ini tiada akan pernah kembali ke dunia, dan tak mungkin dikatakan berapa mil jarak yang ada di muka kita. Bersabarlah, o penakut, sebab semua mereka yang melintasi jalan ini sama halnya dengan keadaanmu.
Lembah pertama ialah Lembah Pencarian, yang kedua Lembah Cinta, yang ketiga Lembah Keinsafan, yang keempat Lembah Kebebasan dan Kelepasan, yang kelima Lembah Keesaan Murni, yang keenam Lembah Keheranan, dan yang ketujuh Lembah Kemiskinan dan Ketiadaan, lebih dari itu tiada yang dapat pergi lebih jauh lagi.
Bila kau memasuki lembah pertama, Lembah Pencarian, seratus kesukaran akan menyergapmu; kau akan mengalami seratus cobaan. Di sana, merak langit tak lebih dari seekor lalat. Kau harus melewatkan beberapa tahun di sana, kau harus melakukan upaya-upaya besar, dan harus mengubah keadaanmu. Kau harus meninggalkan segala yang tampak berharga bagimu dan memandang segala milikmu sebagai tak berarti apa-apa. Bila kau yakin bahwa kau tak memiliki suatu apa, kau masih harus melepaskan dirimu dari segala yang ada. Kemudian hatimu pun akan diselamatkan dari kehancuran dan kau akan melihat cahaya suci Keagungan Ilahiat dan hasrat-hasratmu yang sejati akan diperlipatgandakan menjadi tak terbatas. Siapa yang masuk ke sini akan dipenuhi kerinduan sedemikian rupa sehingga ia akan mengabdikan sepenuh dirinya dalam usaha pencarian yang dilambangkan oleh lembah ini. Ia akan minta seteguk anggur pada pelayan pembawa piala, dan setelah ia minum itu, tak ada lagi yang menjadi soal baginya selain mengejar tujuannya yang sejati. Maka ia pun tak akan takut lagi pada naga-naga penjaga pintu yang mau menelannya. Ketika pintu terbuka dan ia masuk, maka ajaran agama, keimanan dan kekufuran –semua itu tiada lagi.”

Sari dari Ganj-Nama, Kitab tentang Harta dari Osman Amru

Ketika Tuhan meniupkan nafas hayat yang suci ke tubuh Adam yang tak lain dari tanah dan air, Tuhan ingin agar para malaikat tak akan tahu tentang itu, dan tidak pula menaruh syak. Maka Tuhan pun bersabda pada mereka, “Bersujudlah di hadapan Adam? o Ruh Samawi!” Semua mereka pun bersujud, dan ketika mereka bersujud, Tuhan meniupkan nafas hayat ke dalam diri Adam dan tiada satu pun dari mereka yang tahu akan rahasia yang ingin disembunyikan Tuhan. Artinya, tiada satu pun kecuali Iblis, yang berkata dalam hati, “Tak ada yang akan melihat aku bertekuk lutut. Meski kepalaku bercerai dari badanku sekalipun, tidaklah itu akan sama celakanya dengan melaksanakan apa yang dikehendaki Tuhan. Aku tahu betul bahwa bukan karena masalah Adam akan ada di bumi itu saja, maka aku tak bersedia untuk bersujud dan untuk tak melihat rahasia itu.” Dan demikianlah, Iblis tak bersujud, melainkan mengawasi saja, dan melihat rahasia itu. Akhirnya Tuhan pun bersabda, “O kau yang tinggal menunggu, kau telah mencuri rahasia itu, dan untuk itu kau pun akan kumatikan, sebab aku tak ingin ada makhluk yang mengetahui rahasia itu. Bila raja duniawi menyembunyikan harta kekayaannya, ia akan membunuh dia yang mengetahui harta yang disembunyikan itu. Dan engkaulah dia.”
“Rabbi,” kata Iblis, “beri kiranya pertangguhan, karena hamba ini abdi Tuan; dan tunjuki hamba kiranya bagaimana hamba dapat menebus dosa hamba.” “Karena begitu permohonanmu,” sabda Tuhan, “akan kuberikan padamu pertangguhan; namun sejak saat ini, akan kukenakan di lehermu kerah kutukan dan akan kulekatkan padamu nama pembohong dan pemfitnah, agar setiap orang akan waspada terhadapmu sampai hari kiamat.”
Iblis berkata, “Apakah yang mesti hamba takutkan karena kutukan Tuan bila harta suci ini telah tersingkapkan bagiku? Bila kutukan datang dari Tuan, maka akan datang pula ampunan. Di mana ada racun, di sana ada pula penawarnya. Tuan mengutuk sebagian makhluk dan merestui yang lain. Kini karena hamba telah mendurhaka, maka hamba pun menjadi makhluk kutukan Tuan.”
Bila kau tak dapat menemukan dan memahami rahasia yang kukatakan itu, bukanlah karena hal itu tak ada, tetapi karena kau tak mencarinya dengan benar. Bila kau suka pilih-pilih di antara apa-apa yang datang dari Tuhan, maka kau bukan penempuh Jalan Ruhani. Bila kau memandang dirimu sendiri dimuliakan dengan intan dan dihinakan dengan batu, maka Tuhan tak menyertaimu. Perhatikan baik-baik, janganlah kau menyukai intan dan menolak batu, karena keduanya datang dari Tuhan. Bila di saat kalap, kekasihmu melempari kau dengan batu, itu lebih baik daripada permata dari wanita lain.
Di jalan penyempurnaan diri, kita tak boleh lena sejenak pun. Bila sejenak saja kita berhenti menyempurnakan diri, kita akan tergelincir mundur.

Cerita tentang Majnun

Seorang yang mencintai Tuhan melihat Majnun tengah mengayak1 tanah di jalanan dan berkata “Majnun, apa yang kaucari?” “Aku mencari Laila,” katanya. Orang itu berkata lagi, “Adakah kau berharap mendapatkan Laila di situ?” “Aku mencari dia di mana-mana,” kata Majnun, “dengan harapan akan mendapatkannya di suatu tempat.”

Yusuf Hamdani

Yusuf Hamdani seorang yang diagungkan di zamannya, seorang arif, yang mengerti akan rahasia-rahasia berbagai dunia. Katanya, “Segala yang tampak, baik di puncak maupun di dasar-setiap zarrah, sesungguhnya ialah Ya’kub lain yang mengharapkan kabar tentang Yusuf yang hilang daripadanya.”
Di Jalan Ruhani cinta dan pengharapan keduanya perlu. Bila kau tak memiliki yang dua ini lebih baik kau meninggalkan pencarian itu. Kita harus berusaha menjadi sabar. Tetapi apakah pencinta pernah bersabar? Bersabarlah dan berusahalah dengan harapan akan mendapatkan penunjuk jalan. Kuasailah dirimu sendiri dan jangan biarkan kehidupan lahiriah menawanmu.

Cerita tentang Abu Sa’id Mahnah

Syaikh Mahnah ada dalam kebingungan yang amat sangat, hatinya sedih, ketika di kejauhan dilihatnya seorang tua dari desa dengan wajah yang salih sedang berjalan dengan malas, sementara dari badannya memancar cahaya yang terang. Syaikh itu memberi salam padanya lalu menceritakan padanya tentang kesedihan yang dialaminya. Orang tua dari desa itu mendengarkan, dan setelah berpikir sebentar, ia berkata, “O Bu Sa’id, andaikan orang mesti mengisi ruang dari tanah yang terendah sampai ke arasy Tuhan dengan jawawut, tidak hanya sekali melainkan seratus kali, dan andaikan seekor burung setiap kali mengambil sebutir jawawut selama seribu tahun dan kemudian terbang seratus kali keliling dunia, maka dalam waktu yang sekian lamanya itu pun jiwa Tuan tak juga menerima kabar tentang istana samawi, dan Tuan akan masih tetap jauh dari istana itu.”
Kesabaran yang besar perlu bagi mereka yang menderita; tetapi tak ada yang bisa bersabar. Jika pencarian itu beralih dari yang batiniah kepada yang lahiriah, meskipun meluas pula ke seluruh alam, pada akhirnya pencarian itu tak akan memuaskan. Ia yang tak terlibat dalam pencarian kehidupan batin tak lebih dari seekor binatang-demikianlah dapat kukatakan. Bahkan dia itu tidak ada, dia sesuatu yang tak berarti, suatu bentuk tanpa jiwa.

Mahmud dan Pencari Emas

Suatu malam, selagi berkuda seorang diri, Mahmud melihat seorang laki-laki sedang mengayak tanah mencari emas; kepalanya tunduk dan orang itu di sana-sini telah menimbun tumpukan-tumpukan debu yang sudah diayak. Sultan memandangnya, lalu melemparkan gelangnya di antara tumpukan-tumpukan itu dan kemudian pergi memacu kudanya bagai angin. Malam berikutnya Mahmud kembali dan mendapatkan laki-laki itu masih mengayak pula. “Apa yang kau dapat kemarin,” kata sultan, “akan cukup buat membayar upeti bagi dunia, namun kau masih terus juga mengayak!” Laki-laki itu menjawab, “Hamba mendapatkan gelang yang Tuan lemparkan itu, dan karena hamba telah mendapatkan harta semacam itulah maka hamba harus terus mencari selama hidup hamba.”
Jadilah seperti orang itu dan berusahalah mencari sampai pintu itu terbuka bagimu. Matamu tak akan tertutup selalu; carilah pintu itu.

Sebuah Kalimat dari Rabi’ah

Seorang laki-laki berdoa, “Ya Rabbi, bukakan pintu agar hamba dapat menghadap padamu.” Mendengar doa laki-laki itu, Rabi’ah pun berkata, “O si gila! Adakah pintu itu tertutup?”

Pertanyaan burung ke-19


Seekor burung lain berkata pada Hudhud, “Katakan padaku, kau yang terpuji di seluruh dunia, apakah yang mesti kuperbuat agar merasa puas akan perjalanan ini? Jika kau katakan padaku, hatiku akan menjadi lebih ringan dan aku akan bersedia dipimpin dalam usaha ini. Sesungguhnya, petunjuk perlu, agar kita tak menjadi takut. Karena aku hanya ingin menerima petunjuk dari dunia gaib, maka dengan alasan yang layak, ku tolak petunjuk palsu dari makhluk-makhluk di bumi.”
“Selama kau hidup,” jawab Hudhud, “hendaklah kau merasa puas mengingat Tuhan, dan waspadalah terhadap omongan yang tak bijaksana. Bila kau dapat berbuat demikian, kerisauan dan kesedihan jiwamu akan lenyap. Hiduplah dalam Tuhan dengan rasa puas; berputarlah bagai kubah langit lantaran cinta pada-Nya. Jika ada yang lebih baik lagi kau ketahui, katakanlah itu, o burung malang, agar kau dapat merasa bahagia setidak-tidaknya buat sejenak.”

Cerita Kecil tentang Sahabat Tuhan

Seorang sahabat Tuhan yang hampir meninggal mulai menangis dan orang-orang yang ada bersamanya menanyakan kenapa. “Aku menangis bagai awan-awan musim semi,” katanya, “karena saatnya telah tiba ketika aku akan mati dan aku risau. Mengingat bahwa hatiku sudah senantiasa bersama Tuhan, bagaimana mungkin aku akan mati?” Seorang dari mereka yang hadir berkata, “Karena hatimu selalu bersama Tuhan, maka kau akan mendapatkan kematian yang baik.” Sufi itu menjawab, “Bagaimana mungkin ajal datang pada dia yang menyatukan diri dengan Tuhan! Karena aku sudah bersamaNya, maka kematianku tampaknya mustahil.”
Ia yang puas untuk hidup sebagai bagian dari kesemestaan yang besar meninggalkan nafsu keakuannya dan menjadi bebas. Beradalah kau dalam kepuasan dengan sahabatmu, bagai mawar dalam kelopak.

Cerita Kecil Kiasi

Seorang yang telah mencapai kesempurnaan berkata, “Selama tujuh tahun aku telah menyempurnakan diri dan kini aku berada dalam haru-gembira, kepuasan dan kebahagiaan, dan dalam keadaan begini, aku pun ikut serta memiliki Keagungan luhur dan menyatu dengan Keilahian itu sendiri. Adapun kalian, sementara kalian sibuk mencari kesalahan orang-orang lain, bagaimana mungkin kalian akan merasakan kegembiraan di dunia gaib? Jika kalian mencari kesalahan-kesalahan dengan mata menyelidik, bagaimana mungkin kalian mengetahui hal-hal di dunia batin? Kalian tiada segan berbuat begitu teliti mencari kesalahan-kesalahan orang lain, tetapi terhadap kesalahan-kesalahan kalian sendiri, kalian buta. Maka akuilah kesalahan-kesalahan kalian sendiri, meskipun kalian berdosa, Tuhan akan menaruh belas kasih pada kalian.”

Kedua Laki-Laki yang Mabuk

Seorang laki-laki yang kelewat banyak minum minuman jernih itu, sering sampai pada keadaan di mana dia kehilangan baik kesadaran maupun rasa kehormatan dirinya. Suatu kali, seorang kawan memergokinya dalam keadaan yang patut disayangkan, terbaring di jalan. Demikianlah si kawan mendapatkan karung lalu menaruh si mabuk dalam karung itu dengan memasukkan kakinya lebih dulu, kemudian mendukung karung itu di pundaknya dan membawanya pulang Di tengah jalan, muncul orang mabuk yang lain, berjalan sempoyongan, ditopang kawannya. Melihat ini, laki-laki yang kepalanya menggelapai dari dalam karung itu bangun, dan melihat orang lain dalam keadaan yang patut dikasihani itu, ia pun berkata menyesalkan, “Ah, laki-laki celaka, lain kali kalau minum anggur, kurangi dua piala lagi, maka kau pun akan dapat berjalan seperti aku sekarang ini –bebas dan sendiri.”
Keadaan kita sendiri pun tak berbeda. Kita melihat kesalahan-kesalahan karena kita tak cinta. Bila kita punya sedikit saja pengertian tentang cinta yang sebenarnya, kesalahan-kesalahan mereka yang dekat dengan kita akan tampak sebagai sifat-sifat yang baik.

Pecinta dan Kekasihnya

Seorang laki-laki muda, pemberani dan galak bagai singa, selama lima tahun bercinta dengan seorang wanita. Pada yang sebelah dari mata wanita jelita itu ada sebuah bintik kecil, tetapi laki-laki itu, setiap memandang kecantikan kekasihnya, tak pernah melihat bintik itu. Bagaimana mungkin seorang laki-laki yang sedang mabuk cinta, memperhatikan suatu cacat yang begitu kecil? Namun, pada waktunya, cintanya mulai berkurang dan ia pun mendapatkan kembali kewaspadaannya. Pada saat itulah ia dapat melihat bintik itu, dan bertanya pada kekasihnya bagaimana dapat terjadi yang demikian. Kata wanita itu, “Bintik itu tampak pada saat ketika cintamu mulai dingin. Bila cintamu padaku menjadi berkurang, mataku pun menjadi demikian bagimu.”
O yang berhati buta! Berapa lama kau akan terus mencari kesalahan-kesalahan orang lain? Berusahalah untuk melek terhadap apa-apa yang kau sembunyikan dengan begitu cermat. Bila kau melihat kesalahan-kesalahanmu sendiri dengan segala keburukannya, kau tak akan begitu merisaukan kesalahan-kesalahan orang lain.

Polisi dan Laki-Laki yang Mabuk

Seorang polisi memukul jatuh seorang laki-laki mabuk yang berkata padanya. “Mengapa menjadi marah begitu rupa? Kau berbuat sesuatu yang melanggar hukum. Aku tak menyakiti seorang pun, tetapi kau melibatkan dirimu sendiri dalam kemabukan dan melemparkan kemabukan itu ke jalan. Kau jauh lebih mabuk daripada aku, tetapi tak seorang pun memperhatikan ini. Maka tinggalkan aku sendiri, dan tuntutlah keadilan terhadap dirimu sendiri.”

Ucapan burung ke-18


Seekor burung lain berkata pada Hudhud, “Aku percaya bahwa aku telah mendapatkan sendiri segala kesempurnaan yang mungkin didapat, dan itu telah kudapatkan dengan berbagai laku pertarakan yang pedih. Karena di sini telah kudapatkan hasil yang ku inginkan, sulitlah bagiku untuk pergi ke tempat yang kau sebutkan itu. Pernahkah kau tahu orang meninggalkan harta kekayaan untuk pergi dengan susah payah mengelana melalui gunung-gunung, dalam rimba raya, dan melintasi tanah-tanah datar?”
Hudhud menjawab, “O makhluk yang bagai setan, penuh kesombongan dan kebanggaan diri! Kau yang tenggelam dalam nafsu mementingkan diri! Kau yang begitu tak suka berbuat! Kau telah terbujuk oleh angan-anganmu dan kau kini jauh dari perkara-perkara ilahiat. Tubuh nafsu telah mengalahkan jiwamu; setan telah mencuri otakmu. Kebanggaan telah menguasai dirimu. Bahaya yang kau kira telah kau dapatkan di Jalan Ruhani hanyalah nyala yang mengerdip. Seleramu akan hal-hal yang luhur hanya khayali. Jangan biarkan dirimu terbujuk oleh gemerlap yang kaulihat. Selama tubuh nafsumu menentangmu, hati-hatilah. Kau harus melawan musuh ini, dengan pedang di tangan.
Bila cahaya palsu menampakkan dirinya dari tubuh nafsumu kau harus memandangnya sebagai sengatan kalajengking, untuk itu harus kau pergunakan penawar bisa. Janganlah putus asa karena kegelapan jalan yang akan kutunjukkan padamu dan karena cahaya yang akan kau lihat di sana tak akan membuat kau merasa menjadi sahabat surya. Selama kau, o sayangku, terus berada dalam ketakaburan hidup, maka telaahmu pada kitab-kitab dan usahamu yang tak seberapa itu tak akan berharga sekeping obol pun. Hanya bila kau meninggalkan kebanggaan dan kesombongan ini, kau akan dapat meninggalkan hidup lahiriah tanpa sesal. Selama kau masih tetap pada kesombongan dan kebanggaan diri dan pada perkara-perkara kehidupan lahiriah, seratus panah kepedihan akan menusukmu dari segala arah.”

Syaikh Abubakar dari Nisyapur

Syaikh itu keluar pada suatu hari dari permukimannya beserta para pengikutnya, mengendarai khimarnya, sementara para pengikutnya mengiringinya dengan berjalan kaki. Tiba-tiba khimar itu kentut keras sekali, dan mendengar itu syaikh pun berteriak dan mengoyak-koyak khirkanya. Para pengikutnya memandangnya dengan heran, dan salah seorang bertanya mengapa ia berbuat demikian, Kata syaikh itu, “Ketika aku menoleh dan melihat betapa banyak para pengikutku”aku pun berpikir dalam hati, Kini benar-benar aku sama dengan Bayazid. Hari ini aku diiringkan para pengikutku yang banyak dan paling tekun; maka kelak aku pasti akan berkendara dengan kemegahan dan kehormatan di padang mahsyar.” Tambahnya, “Pada saat itulah, ketika aku mengira yang demikian itu sudah tertakdir bagiku, maka khimarku kalian dengar mengeluarkan suara yang terasa tak sejalan. Dengan suara itu ia ingin mengatakan, ‘Inilah jawaban yang diberikan seekor khimar kepada dia yang berlagak besar dan begitu suka menyombongkan diri!’ Itulah sebabnya api penyesalan begitu tiba-tiba melanda jiwaku dan sikapku pun berubah, dan kedudukan yang kuhayalkan hancur berkeping-keping.”
O kau yang berubah di setiap saat, kau seperti Fir’aun sampai ke akar-akar rambutmu. Tetapi jika kau hancurkan “sang aku” dalam dirimu sehari saja, maka kegelapan yang meliputimu akan menjadi terang. Jangan ucapkan kata “aku.” Kau akan terperosok ke dalam seratus kejahatan lantaran “aku-aku”-mu, dan kau akan selalu tergoda oleh setan.

Tuhan Bersabda Kepada Musa

Suatu hari Tuhan bersabda kepada Musa secara gaib, “Pergilah minta nasihat dari Setan.” Maka Musa pun pergi menemui Iblis dan setelah sampai padanya, ia pun minta nasihat padanya. “Senantiasa ingatlah,” kata Iblis, “akan kaidah sederhana ini: jangan bilang ‘aku,’ agar kau tak akan menjadi seperti aku.”
Selama masih tinggal dalam dirimu sedikit rasa cinta diri sendiri, maka kau akan ikut juga dalam ketaksetiaan. Kemalasan ialah rintangan ke Jalan Ruhani; tetapi jika kau berhasil melintasi rintangan ini, maka sebentar saja seratus “aku” akan pecah kepalanya.
Semua pun melihat kesombongan dan kebanggaan diri yang ada padamu, kebencian, iri hati dan kemarahanmu, tetapi kau sendiri tak melihatnya. Ada sesudut dalam dirimu yang penuh dengan naga, dan karena lalai kau dikorbankan pada mereka; dan kau manjakan mereka serta kau pelihara mereka siang dan malam. Maka bila kau sadar akan keadaan batinmu, kenapa pula kau tinggal begitu tak peduli,

Darwis yang Punya Janggut Indah

Di masa Musa ada seorang darwis yang menghabiskan waktu siang dan malamnya dalam ibadat, namun tak menghayati rasa keruhanian. Ia punya janggut panjang yang indah, dan sering selagi berdoa, ia berhenti untuk menyisir janggut itu. Suatu hari, ketika melihat Musa ia pun mendapatkannya dan berkata, “O Pasya dari Tursina, kumohon padamu, bertanyalah pada Tuhan, mengapa aku tak mengalami kepuasan ruhani maupun haru gembira.”
Pada kesempatan berikutnya ketika Musa naik ke Tursina ia pun bicara pada Tuhan tentang darwis itu, dan Tuhan pun bersabda dengan nada tak berkenan, “Meskipun darwis itu telah mencari persatuan dengan aku, namun ia senantiasa memikirkan janggutnya yang panjang itu.” Ketika Musa turun, diceritakannya pada sang darwis bagaimana sabda Tuhan itu. Mendengar itu, darwis itu pun segera mencabuti janggutnya, sambil menangis sedih. Jibril pun lalu datang mendapatkan Musa dan berkata, “Sampai sekarang pun ia masih memikirkan janggutnya. Tiada yang lain lagi dipikirkannya waktu berdoa, dan bahkan lebih lekat hatinya pada janggut itu sementara ia mencabutinya.”
O kau yang merasa tak dipengaruhi lagi oleh janggutmu, kau tercebur di lautan penderitaan. Bila kau dapat memandang janggutmu itu dengan sikap tak terikat, kau akan berhak berlayar melintasi lautan ini. Tetapi bila kau tercebur ke dalamnya dengan janggutmu, kau akan merasa sulit untuk keluar.

Cerita Kecil Lagi tentang Seorang Berjanggut Panjang

Seorang peminum, yang berjanggut panjang dan bagus, kebetulan jatuh ke dalam air yang dalam. Melihat ini, seorang yang lewat pun berseru, “Buanglah pundi-pundi itu dan kepalamu.” Orang yang tenggelam itu menjawab, “Ini bukan pundi-pundi, ini janggutku, dan bukan ini yang menghalangiku.” Kata orang yang lewat itu, “Bagaimanapun, buanglah itu, kalau kau tak mau tenggelam.”
O kau yang seperti kambing, dan tak malu akan janggutmu, selama ada padamu tubuh nafsu dan setan yang akan menggulungmu, maka kebanggaan Fir’aun dan Haman akan menjadi bagian dari dirimu pula. Palingkan dirimu dari dunia ini sebagaimana Musa berbuat demikian, maka kau pun akan dapat menangkap janggut Fir’aun dan menyekap dia kuat-kuat. Dia yang berjalan di jalan menuju kesempurnaan diri harus memandang hatinya hanya sebagai syisy kabab. Orang yang membawa ember penyiram tidak menunggu hujan turun.